Beberapa
hari yang lalu, saya melihat satu tayangan di TV tentang anak-anak ‘berbakat.’
Dua bintang tamu yang diundang adalah anak seorang musisi kondang di Indonesia
dan satu lagi anak ‘berbakat’ jebolan audisi pencarian bakat anak-anak. Saya
tidak hendak membahas isi tayangan tersebut, tapi ada satu hal yang membuat
hati saya terenyuh.
Di
tengah-tengah acara tersebut, pembawa acara tersebut bertanya ke anak ‘berbakat’
jebolan audisi pencarian bakat. “Kamu suka bermain apa?”
“Tidak. Aku
tidak suka bermain.” Jawabnya.
“Terus, kamu
sukanya apa?” Tanya sang pembawa acara lagi.
“Aku sukanya
narsis. Cita-citaku nanti, kalau besar mau seperti tante Syahr***. Owlala.”
Begitu
seterusnya. Yang dibicarakan si anak selalu tentang narsis, bahasa-bahasa alay,
dan tingkahnya pun sangat dewasa, melebihi usinya. Saya prihatin sekali dan
seketika itu saya langsung memeluk anak saya. Saya berbisik padanya, “Jadilah
engkau seperti umurmu, tumbuhlah secara alami, dan ibu akan menjagamu.”
Bermain itu
Hak Anak
Saya sendiri
percaya bahwa bermain adalah hal yang intrinsik dalam diri anak kecil. Sejak
bayi kecenderungan bermain ini sudah ada dengan sendirinya. Tanpa diajari atau
disuruh, bayi dan anak-anak pasti akan bermain dan memainkan apa saja yang ada
di sekitar mereka.
Sayangnya,
banyak orang tua menganggap bermain sebagai aktivitas yang tidak berguna atau
bahkan ada yang menganggap bermain adalah hal yang merugikan. Seperti contoh di
atas, si anak mengatakan bahwa dia tidak suka bermain dan lebih suka narsis.
Saya yakin, itu bukan murni pendapatnya, tetapi ada pihak lain yang
mengajarkannya. Toh, di tengah-tengah acara tersebut, ketika si anak disuruh
memasang puzzle, si anak ternyata sangat menikmatinya.
Kalau
manusia mempunyai hak yang biasa disebut sebagai HAM (hak asasi manusia), maka
salah satu hak anak ada bermain. Ketika aktivitas ini tidak diberikan, tidak
difasilitasi, atau dilarang, maka dengan sendirinya si anak sudah kehilangan
haknya. Ketika hak anak dilanggar, maka pertumbuhannya akan terganggu. Anak menjadi pribadi karbitan, tidak sabar ketika dewasa, dan mungkin benar candaan beberapa orang tentang perilaku anggota dewan yang suka bertingkah seperti anak TK yang disebabkan kurangnya mereka bermain di usia kecil mereka.
Anak-anak
yang sering dilarang bermain akan tumbuh menjadi anak yang kaku, tidak
fleksibel, dan kehilangan daya kreatifitasnya. Akibat lain dari larangan
bermain yang berlebihan kepada anak adalah emosi anak yang negatif karena
seringnya mendapat tekanan dan aturan dari orang-orang dewasa di sekitarnya.
Ini yang saya amati dari anak-anak di sekitar saya dan juga murid-murid saya
ketika saya masih mengajar di TK beberapa tahun lalu. Mereka yang masa kecilnya
‘pintar’ karena sering disuruh orang tuanya untuk rajin belajar di umurnya yang
masih dini, ternyata kini prestasinya biasa-biasa saja dan cenderung menurun.
Orang tuanya pun akhirnya tersadar dan mengatakan kepada saya, “mungkin si anak
sudah bosan belajar dan sekarang pengennya bermain karena dulu jarang bermain.”
Sebaliknya,
membiarkan anak bermain secara alami akan membuat anak senang, anak juga akan
mudah meluapkan emosinya secara tepat karena tidak ada tekanan dan aturan yang
mengungkungnya. Selain itu, anak juga akan juga akan terbiasa mengeksplorasi
kemampuannya secara penuh.
Pengalaman
saya pribadi dalam hal pendidikan dan pengasuhan, saya berusaha untuk tidak
banyak melarang berbagai permainan yang dilakukan si kecil, selama permainan
itu tidak membahayakannya. Seperti bermain di luar, bermain di lumpur, bermain
di pasir, bermain alat-alat dapur, dan lainnya. Tentu saja, aku selalu berada
di sampingnya.
| Main di pantai |
| Berani kotor itu baik |
Bagi
kami, bermain bisa membantu stimulasi kecerdasannya. Menjaga anak untuk terus
terlihat bersih dengan melarang anak melakukan ini dan itu hanya akan
membuatnya menjadi penakut dan kurang kreatif. Begitulah prinsip kami. Masalah
baju kotor, rumah berantakan dan berserakan, bagi kami lebih mudah diatasi
dibanding kami harus kehilangan sikap-sikap positif anak di masa depan.
#KidsToday project blog competition diadakan oleh Rinso Indonesia dan mengetahui kontes ini dari MommiesDaily
Seruunya bermain.
ReplyDeleteBermain adalah kebutuhan dasar anak, hak anak, naluri anak...sudah sepantasnya kita support dan kondisikan lingkungan yg aman.
betul itu bu..... tantangan terbesar adalah diri kita sendiri yang seringkali 'bawel' dengan ketidakrapihan, berantakan, dan juga kotor.
ReplyDelete