Thursday, 10 April 2014

My Most Unforgettable Journey: Perjalanan Pertama Setelah Menjadi Ibu

Saya baru menyadari bahwa hidup saya benar-benar berubah setelah mempunyai anak ketika saya bepergian. Pertama kali kami keluar rumah dengan mengendarai motor (dibonceng maksudnya) yaitu ketika kami harus mengimunisasi si kecil beberapa hari setelah dia lahir. Saat itulah saya menyadari bahwa saya tidak lagi sendiri. Bila sebelum si kecil lahir, saya cukup mempersiapkan diri, dandan sepantasnya, memakai kostum yang saya rasa nyaman, kini semua harus berubah. Saya harus menyediakan dua waktu untuk bersiap-siap. Satu waktu untuk si kecil, satu waktu lagi untuk saya sendiri. Terlebih dahulu saya harus mempersiapkannya, memberikan pakaian yang nyaman, membawa pakaian ganti, diapers, minyak kayu putih, dan keperluan lainnya. Artinya, saya juga harus mengganti tas bepergian dengan tas yang lebih besar. Setelah itu, baru saya bisa bersiap-siap, mengganti baju yang nyaman untuk menyusui (hal itu terjadi sampai sekarang, saat si kecil berusia 23 bulan), mengganti sepatu yang nyaman dan seimbang karena sudah ada gendongan di pundak, dan simpel. Artinya, saya harus menyingkirkan beberapa baju yang tidak ramah buat ibu menyusui. 

Saya sendiri sering kali melakukan perjalanan, meski cuma sekitaran pulau Jawa plus Lampung, dan sekali ke Sulawesi (dari Makassar ke Palu via jalur darat). Namun tidak ada perjalanan yang terkenang sampai-sampai kenangan itu nampak di mata, selain perjalanan mudik pertama saya dengan si kecil, yaitu perjalanan jauh saya yang pertama setelah menjadi ibu.

Pada oktober 2012, saya mendapat kabar buruk dari ibu di Lamongan, abah saya masuk rumah sakit dan langsung masuk ICU. Saat itu, si kecil masih 5 bulan. Setelah mendapat kabar itu, saya tidak bisa berpikir apa-apa selain kepikiran abah. Bagaimana tidak, bisa dikatakan abah ini sangat jarang sakit. Dan cuma sekali dirawat di rumah sakit. Lah ini masuk ICU, berarti ada yang tidak beres dan keadaannya sangat mengkhawatirkan.

Keesokan harinya, saya mengabarkan berita ini kepada mertua yang kebetulan menyambangi kami di Lampung. Mendengar kabar itu, mertua memutuskan untuk segera pulang ke Lamongan. Sebenarnya saya ingin sekali ikut pulang, tapi saya ragu karena perjalanan Lampung-Lamongan bukan perjalanan singkat. Seharian itu saya masih tidak bisa berpikir apa-apa selain abah. Saya pun tidak bisa makan, tidak bisa tidur, bahkan untuk sekedar tersenyum.

Melihat kondisi saya yang menyedihkan itulah, akhirnya suami memutuskan untuk mengantar saya pulang bersama mertua. Akhirnya kami pulang berlima dengan membawa serta si kecil. Saya langsung mencari informasi tentang apa saja yang harus disiapkan untuk perjalanan ini, terutama persiapan untuk si kecil. Saya juga mencari informasi kemungkinan-kemunginan apa yang terjadi pada bayi 5 bulan yang dibawa perjalanan jauh. Semua saya persiapkan dengan detil, agar perjalanan bisa ditempuh dengan lancar.

Akhirnya kami berangkat. Semua berjalan dengan lancar. Si kecil juga tenang dan tidak rewel. Semua kekhawatiranku pun hilang dan sedikit lega setelah sampai Semarang si kecil benar-benar dalam keadaan baik, ceria, dan terlihat bahagia. 

Namun kelegaanku tidak bertahan lama setelah kami berganti bis di Semarang. Bis yang kami tumpangi lebih sempit dari bis sebelumnya dan lebih panas. Bagi kami yang dewasa mungkin ini biasa, tapi kami lupa ada bayi berumur 5 bulan di tengah-tengah kami. 

Bis berangkat dan si kecil mulai merasa tidak nyaman. Sampai Kudus, si kecil sudah mulai menangis. Tangisan yang awalnya pelan menjadi tantrum yang luar biasa ketika bis memasuki Pati. Saya, suami, ibu dan abah mertua bergantian menggendong. Saya juga sudah berusaha memberikan ASI, tapi ditolaknya. Semua usaha dilakukan untuk membuat si kecil tenang, mulai memberikan manan, sampai memberikan makanan (padahal waktu itu saya belum memberikan MPASI untuknya). Tapi usaha-usaha itu tidak ada yang berhasil. Seluruh penumpang bis pun mulai merespon tangisan si kecil, mulai dari sekedar melihat simpati, menwarkan gendongan, sampai ada yang menawarkan pijitan. Rupanya, tawaran terakhir dipilih si kecil dan berhasil membuatnya tidur untuk beberapa saat. Bis pun kembali tenang. 

Ketika sampai di Tuban, kami semua beristirahat. Si kecil pun bangun dan ceria karena dia turun dari bis. Dia bisa tertawa, tapi tetap menolak untuk diberi ASI. Saat itu saya sangat sedih, saya berpikir bahwa si kecil sudah tidak mau mengASI lagi, padahal saya sudah bertekad untuk memberikan ASI eksklusif sampai umurnya dua tahun.

Waktu istirahat pun usai dan kami harus kembali ke bis. Belum 10 menit bis berjalan, si kecil mulai menangis lagi. Kata salah satu penumpang, bis yang kmai tumpangi itu ada setannya, makanya si kecil terus-terusan menangis saat ada di dalam bis. Ada penumpang lain yang mencoba menebak pikiran saya yang kacau yang menjadi alasan si kecil terus-terusan menangis. Saya sudah tidak bisa mencerna mana yang benar dan mana yang masuk akal dari semua perkiraan tersebut. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana cara melipat kabupaten Tuban yang jaraknya mengular itu biar kami semua cepat sampai di Lamongan. Tapi rupanya, bila jalanan itu semakin dipikir, maka jarak yang ditempuh itu semakin jauh. Rumus matematika sungguh tidak berlaku dalam situasi yang kacau seperti ini.

Si kecil semakin kuat menangis dan nampaknya pak sopir sudah mulai terganggu. Tanpa berpikir panjang lagi, saya memutuskan untuk turun dari bis. Ya, kami turun di tengah jalan sebelum sampai di Lamongan. Taukah sadaura-saudara apa reaksi si kecil setelah turun dari bis? Dia tertawa-tawa seolah tidak terjadi apa-apa. 

Rasanya seperti diledek. Tak apa, yang penting keadaan kembali tenang. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Lamongan dari Tuban dengan diantar kakak sepupu yang ndilalah e rumahnya tidak jauh dari tempat kami berhenti (saya belum pernah berkunjung ke rumah sepupu tersebut). Kami pun singgah sebentar, makan, mandi, dan lanjut perjalanan kembali.

Tapi saya penasaran, apa yang menjadikan si kecil enggan mengASI kepada saya. Rupanya, dia merasa kepedesan (kali) dengan ASInya karena sebelum naik bis di Semarang, saya membalur perut saya yang mulai kembung dengan minyak kayu putih. 

Dari perjalanan itu, banyak pelajaran yang saya dapat, terutama pengalaman sebagai seorang ibu. Saya yang sebelumnya gampang panik dengan tangisan anak, kini menjadi lebih tenang menghadapinya. Saya yang dulu gampang terganggu dengan tangisan anak orang lain di kendaraan umum, kini bisa lebih peduli dan simpati. Saya yang dulu cenderung cuek dengan orang yang tidak dikenal, kini bisa mengurangi sikap cuek tersebut dan lebih berpikirna positif. Kalau bang Napi bilang, kejahatan di mana-mana, maka saya juga bisa bilang, kebaikan pun ada di mana-mana. Dan yang lebih penting lagi, tidak mengusap minyak kayu putih sembarangan. Hehehe.




*Tidak ada dokumentasi foto di perjalanan saat itu. Maklum, pikiran kacau balau.

Wednesday, 9 April 2014

Kartini Itu Perempuan yang Sadar Prioritas


Untuk meramaikan GA-nya Pakdhe, saya memilih artikel dari tokoh yang saya anggap spesial di hati saya, meskipun saya belum pernah bertemu dengannya. Namanya Irmayanti Nugraha, sang ratu galau. Entah dari mana julukan itu, yang pasti, sang ratu ini sering menyebut dirinya sebagai ratu galau yang seringkali membuat pencitraan (yang aslinya memang hebat) dan tampil (dalam status FB) sebagai pribadi yang apa adanya. Sang ratu adalah ibu pelaku homeschooler dari ketiga putra-putrinya, seorang guru yang menurut saya luar biasa, dan ternyata sangat aktif ngeblog, terutama tentang pendidikan. 

Salah satu tulisan yang saya sukai adalah curhat sang ratu yang berjudul 'Lagi Nyesek.' Tulisan itu juga pernah dishare di status FB dan mendapat banyak komentar, terutama para ibu yang merasa satu nasib dengan dia, termasuk juga saya. 

Sebenarnya tulisan itu sederhana, singkat, dan terkesan hanya sebuah curhat. Tapi bagi saya yang merasa satu nasib dengannya, tulisan tersebut adalah obat yang sangat luar biasa mujarab untuk kegalauan saya. Seperti dalam puisi-puisi, curhatan sang ratu seperti oase di padang pasir.

Secara singkat, tulisan itu bercerita tentang perasaan seorang ibu, yang berlatar belakang pendidikan tinggi, yang sebenarnya punya banyak kesempatan untuk berkelana di luar rumah, yang juga berkesempatan mendapatkan karir, yang juga punya kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi, tapi harus 'rela berkorban' untuk menahan semua impiannya itu demi anak-anak. Memang pada kenyataannya, Mbak Irma (begitu saya memanggilnya) masih tetap mengajar, tapi mungkin tidak bisa full. Dalam masa-masa inilah, Mbak Irma menyebutnya sebagai waktu yang nyesek. Masa itu pun tidak sebentar, sepuluh tahun, saudara-saudara.
Menunggu sepuluh tahun untuk kembali ke dunia persilatan, ternyata saya ga banyak kehilangan juga, kok. Sekarang saya memang bukan pakar, ga terkenal, ga kaya dari segi pendidikan, karir dan hobi, tapi somehow saya merasa seimbang, dan fulfilled. Ga penasaran, gitu.

Alhamdulillah.... 
Begitu curhatnya ditutup. Artinya, masa-masa nysek itu telah berakhir bahagia dengan sebuah kondisi yang sangat ideal, seimbang. Lalu apa hubungannya dengan semangat Kartini?

Salah satu semangat yang diperjuangkan Kartini adalah memperjuangkan kemerdekaan perempuan dengan pendidikan. Menurutnya, 
 ... Dan betapakah ibu Bumiputera itu sanggup mendidik anaknya, bila mereka itu tiada berpendidikan?
Ya, perempuan memang harus berpendidikan. Namun Kartini juga cepat-cepat menegaskan bahwa terdidiknya perempuan adalah untuk bekal tugas prioritasnya, yaitu ibu. 
Seorang perempuan yang mengurbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hatinya... perempuan itu 'ibu'lah dalam hati sanubarinya... Ibulah yang menjadi pusat kehidupan rumah tangga dan kepada ibu itulah dipertanggungjawabkan kewajiban pendidikan anak-anak yang berat itu: yaitu bagian pendidikan yang membentuk budinya.
Semangat sadar akan prioritas itulah yang saya lihat dari tulisan Mbak Irma, di mana dia mampu memilah dan memilih mana hal yang utama dan didahulukan dan hal mana yang bisa ditunda di kemudian hari. Pengasuhan dan pendidikan anak-anak ditempatkan pada prioritas utama, baru kemudian menempatkan hal lainnya. Tulisan inilah yang kemudian membuat saya lebih legowo atas situasi saya sendiri, saya yang memilih untuk tidak berkerja di luar demi membesarkan sendiri anak saya. Mungkin nantinya saya akan bekerja, tapi saya pastikan, saya tidak menjadikan anak sebagai prioritas kedua setelah pekerjaan saya.

Seperti yang ditulikannya di awal, 
Mmm..... khawatir salah persepsi nih.
Saya bukan mau bilang, "Ayo pada resign!", karena saya juga bekerja di luar rumah sampai saat ini. Lagipula, banyak sekali ibu yang bisa meraih pencapaian pribadi dalam pendidikan dan karir, tanpa perlu melewatkan masa perkembangan anak-anak.
Tulisan tersebut bukan kampanye bagi para ibu untuk keluar dari pekerjaannya. Pesan yang ingin disampaikan adalah, bahwa semua ada masanya. Mungkin saat ini situasi yang kita rasa begitu menyesakkan, namun yakinlah, bahwa suatu masa, kita akan tersenyum atas air mata kita hari ini.

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Ada Kartini Di Dadamu.

Suber kutipan tulisan Kartini, "Habis Gelap Terbitlah Terang,"  terj. Armijn Pane, 1990.