Monday, 7 July 2014

Indonesia di Mata Perempuan

Pernahkah Anda merasa kecewa dengan Indonesia? Saya pernah, sering malah. Yaitu ketika membaca atau menyaksikan berita-berita yang tidak menyenangkan tentang Indonesia. Misalnya, berita tentang peringkat tertinggi yang diraih Indonesia perihal tindak korupsi atau peringkat Indonesia dalam pendidikan yang berada di bawah Vietnam, atau berita tentang TKI atau TKW yang dideportasi karena tidak mempunyai dokumen yang lengkap, atau berita tentang ekspor kabut asap ke negeri tetangga akibat pembakaran hutan secara liar, dan sederet berita yang tidak menyenangkan lainnya. Belum lagi berita tentang perilaku-perilaku tidak disiplin yang dilakukan masyarakat yang terkadang di luar logika kewarasan, seperti pencurian rel kereta api, pencurian lampu jembatan, pemalsuan plat nomor kendaraan, penyusupan barang-barang terlarang seperti ganja, pembuatan minuman oplosan yang membuat hilangnya nyawa manusia, atau berita-berita investigasi yang membuat perut seperti terkocok-kocok dan memuntahkan seluruh isinya.

Menyaksikan berita-berita tersebut sungguh membuat saya pesimis, seakan-akan mencari orang baik di negeri yang katanya sekeping emas dari surga ini seperti mencari jarum dalam jerami, susah. Dan kalau mau terus-terusan dituruti, rasa pesimis itu akan terus menjalar ke seluruh pemikiran, menular ke lingkungan terdekat, menyebar ke masyarakat, dan seterusnya. Bila dibiarkan, rasa pesimis itu akan menjadi mesin penghancur harapan di masa yang akan datang.

Karena itulah, saya kemudian memilah dan memilih tontonan serta bacaan yang akan menjadi makanan jiwa saya. Saya kemudian memperbanyak berita-berita positif, cerita-cerita yang menginspirasi, serta teladan-teladan yang membuat semangat kembali membara untuk menyongsong harapan. Dan ternyata, berita-berita positif itu banyak, sangat banyak, dan berlimpah. Ada berita pemimpin daerah yang tak kenal menyerah dalam memajukan daerahnya melalui program ambulans menjemput, ada cerita tentang seniman yang terus berkarya tanpa imbal jasa, ada pendidik-pendidik yang rela meninggalkan kehidupan gemerlap kota yang mewah untuk berjuang di pedalaman, ada anak kecil yang tanpa rasa lelah mengurus orang tua yang telah lemah tidak berdaya, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Itulah cara saya memandang Indonesia. Saya melihat dari media, dari lingkungan sekitar, dan dari kepekaan berpikir. Sederhana memang. Ya, saya tidak bisa melihat Indonesia dari kaca mata luar karena memang saya belum pernah pergi ke luar negeri dan membandingkan Indonesia dengan negara-negara di luar sana. Beberapa kali memang saya sempat mengagumi beberapa keunggulan negara lain, tapi kembali lagi saya berpikir bahwa saya tinggal di Indonesia, lahir dan besar di sini, memakai tanah di sini, minum air di sini, punya harapan dan cita-cita di negeri ini, dan akan mencurahkan pengabdian untuk negeri ini. Saya teringat dengan guyonan anak-anak muda di buku 5 Cm, bahwa negeri ini memang unik, bangsa kreatif, dan pastinya tiada duanya di dunia ini. Mana ada ojek payunh di luar negeri? Mana ada kapal selam atau ketoprak yang dijadikan makanan di luar negeri? Mana ada nasi pecel, rujak cingur, nasi timbel, sego kucing, dan sederet makanan-makanan lezat lainnya di luar sana?

Ingatan saya pun melayang ke berita-berita mengerikan di jalur Gaza, di Suriah, di Afganistan, dan baru-baru ini terjadi, perang di Irak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka di sana. Jangankan sekolah, jalan-jalan, bersantai ria, atau bekerja mencari nafkah, untuk memejamkan mata saja pastinya mereka diliputi rasa takut yang luar biasa. Anak-anak mereka lahir dan tumbuh dalam keadaan mencekam, rasa takut, dan rasa penuh dendam dan permusuhan. Rasa syukur pun tak terkira karena saya ditakdirkan lahir di negeri yang super damai ini. Kalau pun ada sedikit kekacauan, pastinya akan segera diselesaikan dan kedamaian akan kembali dirasakan.


Lalu, apa peran yang bisa saya lakukan untuk negeri tercinta ini sebagai rasa syukur saya? Tugas utama saya adalah sebagai ibu. Peran yang bisa saya lakukan dan saya persembahkan untuk negeri ini adalah mempersembahkan generasi-generasi tangguh di masa depan yang akan mengabdi di negeri ini. Saya akan mendidik anak-anak saya dengan pendidikan yang sebaik-baiknya, memberikan bekal akhlak yang mulia, menumbuhkan jiwa yang tangguh, tidak mudah menyerah, serta mempunyai nilai spiritual yang tidak akan tergerus oleh zaman. Saya masih percaya, bahwa perempuan adalah tiang negara. Apabila perempuan di negara tersebut baik, maka baiklah negara tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila perempuan-perempuan di suatu negara itu tidak baik, maka bisa dipastikan, hancurlah negara tersebut. Seorang penyair pun berkata, bahwa ibu adalah sekolah pertama yang terbaik, apabila ibu tersebut disiapkan dengan baik, berarti ia telah menyiapkan suatu bangsa yang harum namnya. 

Monday, 12 May 2014

#Kids Today Project: Biarkan Anak menjadi Anak Kecil!


Beberapa hari yang lalu, saya melihat satu tayangan di TV tentang anak-anak ‘berbakat.’ Dua bintang tamu yang diundang adalah anak seorang musisi kondang di Indonesia dan satu lagi anak ‘berbakat’ jebolan audisi pencarian bakat anak-anak. Saya tidak hendak membahas isi tayangan tersebut, tapi ada satu hal yang membuat hati saya terenyuh.

Di tengah-tengah acara tersebut, pembawa acara tersebut bertanya ke anak ‘berbakat’ jebolan audisi pencarian bakat. “Kamu suka bermain apa?”

“Tidak. Aku tidak suka bermain.” Jawabnya.

“Terus, kamu sukanya apa?” Tanya sang pembawa acara lagi.

“Aku sukanya narsis. Cita-citaku nanti, kalau besar mau seperti tante Syahr***. Owlala.”

Begitu seterusnya. Yang dibicarakan si anak selalu tentang narsis, bahasa-bahasa alay, dan tingkahnya pun sangat dewasa, melebihi usinya. Saya prihatin sekali dan seketika itu saya langsung memeluk anak saya. Saya berbisik padanya, “Jadilah engkau seperti umurmu, tumbuhlah secara alami, dan ibu akan menjagamu.”

 


 Bermain itu Hak Anak

Saya sendiri percaya bahwa bermain adalah hal yang intrinsik dalam diri anak kecil. Sejak bayi kecenderungan bermain ini sudah ada dengan sendirinya. Tanpa diajari atau disuruh, bayi dan anak-anak pasti akan bermain dan memainkan apa saja yang ada di sekitar mereka.

Sayangnya, banyak orang tua menganggap bermain sebagai aktivitas yang tidak berguna atau bahkan ada yang menganggap bermain adalah hal yang merugikan. Seperti contoh di atas, si anak mengatakan bahwa dia tidak suka bermain dan lebih suka narsis. Saya yakin, itu bukan murni pendapatnya, tetapi ada pihak lain yang mengajarkannya. Toh, di tengah-tengah acara tersebut, ketika si anak disuruh memasang puzzle, si anak ternyata sangat menikmatinya.

Kalau manusia mempunyai hak yang biasa disebut sebagai HAM (hak asasi manusia), maka salah satu hak anak ada bermain. Ketika aktivitas ini tidak diberikan, tidak difasilitasi, atau dilarang, maka dengan sendirinya si anak sudah kehilangan haknya. Ketika hak anak dilanggar, maka pertumbuhannya akan terganggu. Anak menjadi pribadi karbitan, tidak sabar ketika dewasa, dan mungkin benar candaan beberapa orang tentang perilaku anggota dewan yang suka bertingkah seperti anak TK yang disebabkan kurangnya mereka bermain di usia kecil mereka.

Anak-anak yang sering dilarang bermain akan tumbuh menjadi anak yang kaku, tidak fleksibel, dan kehilangan daya kreatifitasnya. Akibat lain dari larangan bermain yang berlebihan kepada anak adalah emosi anak yang negatif karena seringnya mendapat tekanan dan aturan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Ini yang saya amati dari anak-anak di sekitar saya dan juga murid-murid saya ketika saya masih mengajar di TK beberapa tahun lalu. Mereka yang masa kecilnya ‘pintar’ karena sering disuruh orang tuanya untuk rajin belajar di umurnya yang masih dini, ternyata kini prestasinya biasa-biasa saja dan cenderung menurun. Orang tuanya pun akhirnya tersadar dan mengatakan kepada saya, “mungkin si anak sudah bosan belajar dan sekarang pengennya bermain karena dulu jarang bermain.”

Sebaliknya, membiarkan anak bermain secara alami akan membuat anak senang, anak juga akan mudah meluapkan emosinya secara tepat karena tidak ada tekanan dan aturan yang mengungkungnya. Selain itu, anak juga akan juga akan terbiasa mengeksplorasi kemampuannya secara penuh.

Farras bermain mobil dan hewan

Pengalaman saya pribadi dalam hal pendidikan dan pengasuhan, saya berusaha untuk tidak banyak melarang berbagai permainan yang dilakukan si kecil, selama permainan itu tidak membahayakannya. Seperti bermain di luar, bermain di lumpur, bermain di pasir, bermain alat-alat dapur, dan lainnya. Tentu saja, aku selalu berada di sampingnya.
Main di pantai


Berani kotor itu baik


Bagi kami, bermain bisa membantu stimulasi kecerdasannya. Menjaga anak untuk terus terlihat bersih dengan melarang anak melakukan ini dan itu hanya akan membuatnya menjadi penakut dan kurang kreatif. Begitulah prinsip kami. Masalah baju kotor, rumah berantakan dan berserakan, bagi kami lebih mudah diatasi dibanding kami harus kehilangan sikap-sikap positif anak di masa depan.

#KidsToday project blog competition diadakan oleh Rinso Indonesia dan mengetahui kontes ini dari MommiesDaily

Thursday, 10 April 2014

My Most Unforgettable Journey: Perjalanan Pertama Setelah Menjadi Ibu

Saya baru menyadari bahwa hidup saya benar-benar berubah setelah mempunyai anak ketika saya bepergian. Pertama kali kami keluar rumah dengan mengendarai motor (dibonceng maksudnya) yaitu ketika kami harus mengimunisasi si kecil beberapa hari setelah dia lahir. Saat itulah saya menyadari bahwa saya tidak lagi sendiri. Bila sebelum si kecil lahir, saya cukup mempersiapkan diri, dandan sepantasnya, memakai kostum yang saya rasa nyaman, kini semua harus berubah. Saya harus menyediakan dua waktu untuk bersiap-siap. Satu waktu untuk si kecil, satu waktu lagi untuk saya sendiri. Terlebih dahulu saya harus mempersiapkannya, memberikan pakaian yang nyaman, membawa pakaian ganti, diapers, minyak kayu putih, dan keperluan lainnya. Artinya, saya juga harus mengganti tas bepergian dengan tas yang lebih besar. Setelah itu, baru saya bisa bersiap-siap, mengganti baju yang nyaman untuk menyusui (hal itu terjadi sampai sekarang, saat si kecil berusia 23 bulan), mengganti sepatu yang nyaman dan seimbang karena sudah ada gendongan di pundak, dan simpel. Artinya, saya harus menyingkirkan beberapa baju yang tidak ramah buat ibu menyusui. 

Saya sendiri sering kali melakukan perjalanan, meski cuma sekitaran pulau Jawa plus Lampung, dan sekali ke Sulawesi (dari Makassar ke Palu via jalur darat). Namun tidak ada perjalanan yang terkenang sampai-sampai kenangan itu nampak di mata, selain perjalanan mudik pertama saya dengan si kecil, yaitu perjalanan jauh saya yang pertama setelah menjadi ibu.

Pada oktober 2012, saya mendapat kabar buruk dari ibu di Lamongan, abah saya masuk rumah sakit dan langsung masuk ICU. Saat itu, si kecil masih 5 bulan. Setelah mendapat kabar itu, saya tidak bisa berpikir apa-apa selain kepikiran abah. Bagaimana tidak, bisa dikatakan abah ini sangat jarang sakit. Dan cuma sekali dirawat di rumah sakit. Lah ini masuk ICU, berarti ada yang tidak beres dan keadaannya sangat mengkhawatirkan.

Keesokan harinya, saya mengabarkan berita ini kepada mertua yang kebetulan menyambangi kami di Lampung. Mendengar kabar itu, mertua memutuskan untuk segera pulang ke Lamongan. Sebenarnya saya ingin sekali ikut pulang, tapi saya ragu karena perjalanan Lampung-Lamongan bukan perjalanan singkat. Seharian itu saya masih tidak bisa berpikir apa-apa selain abah. Saya pun tidak bisa makan, tidak bisa tidur, bahkan untuk sekedar tersenyum.

Melihat kondisi saya yang menyedihkan itulah, akhirnya suami memutuskan untuk mengantar saya pulang bersama mertua. Akhirnya kami pulang berlima dengan membawa serta si kecil. Saya langsung mencari informasi tentang apa saja yang harus disiapkan untuk perjalanan ini, terutama persiapan untuk si kecil. Saya juga mencari informasi kemungkinan-kemunginan apa yang terjadi pada bayi 5 bulan yang dibawa perjalanan jauh. Semua saya persiapkan dengan detil, agar perjalanan bisa ditempuh dengan lancar.

Akhirnya kami berangkat. Semua berjalan dengan lancar. Si kecil juga tenang dan tidak rewel. Semua kekhawatiranku pun hilang dan sedikit lega setelah sampai Semarang si kecil benar-benar dalam keadaan baik, ceria, dan terlihat bahagia. 

Namun kelegaanku tidak bertahan lama setelah kami berganti bis di Semarang. Bis yang kami tumpangi lebih sempit dari bis sebelumnya dan lebih panas. Bagi kami yang dewasa mungkin ini biasa, tapi kami lupa ada bayi berumur 5 bulan di tengah-tengah kami. 

Bis berangkat dan si kecil mulai merasa tidak nyaman. Sampai Kudus, si kecil sudah mulai menangis. Tangisan yang awalnya pelan menjadi tantrum yang luar biasa ketika bis memasuki Pati. Saya, suami, ibu dan abah mertua bergantian menggendong. Saya juga sudah berusaha memberikan ASI, tapi ditolaknya. Semua usaha dilakukan untuk membuat si kecil tenang, mulai memberikan manan, sampai memberikan makanan (padahal waktu itu saya belum memberikan MPASI untuknya). Tapi usaha-usaha itu tidak ada yang berhasil. Seluruh penumpang bis pun mulai merespon tangisan si kecil, mulai dari sekedar melihat simpati, menwarkan gendongan, sampai ada yang menawarkan pijitan. Rupanya, tawaran terakhir dipilih si kecil dan berhasil membuatnya tidur untuk beberapa saat. Bis pun kembali tenang. 

Ketika sampai di Tuban, kami semua beristirahat. Si kecil pun bangun dan ceria karena dia turun dari bis. Dia bisa tertawa, tapi tetap menolak untuk diberi ASI. Saat itu saya sangat sedih, saya berpikir bahwa si kecil sudah tidak mau mengASI lagi, padahal saya sudah bertekad untuk memberikan ASI eksklusif sampai umurnya dua tahun.

Waktu istirahat pun usai dan kami harus kembali ke bis. Belum 10 menit bis berjalan, si kecil mulai menangis lagi. Kata salah satu penumpang, bis yang kmai tumpangi itu ada setannya, makanya si kecil terus-terusan menangis saat ada di dalam bis. Ada penumpang lain yang mencoba menebak pikiran saya yang kacau yang menjadi alasan si kecil terus-terusan menangis. Saya sudah tidak bisa mencerna mana yang benar dan mana yang masuk akal dari semua perkiraan tersebut. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana cara melipat kabupaten Tuban yang jaraknya mengular itu biar kami semua cepat sampai di Lamongan. Tapi rupanya, bila jalanan itu semakin dipikir, maka jarak yang ditempuh itu semakin jauh. Rumus matematika sungguh tidak berlaku dalam situasi yang kacau seperti ini.

Si kecil semakin kuat menangis dan nampaknya pak sopir sudah mulai terganggu. Tanpa berpikir panjang lagi, saya memutuskan untuk turun dari bis. Ya, kami turun di tengah jalan sebelum sampai di Lamongan. Taukah sadaura-saudara apa reaksi si kecil setelah turun dari bis? Dia tertawa-tawa seolah tidak terjadi apa-apa. 

Rasanya seperti diledek. Tak apa, yang penting keadaan kembali tenang. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Lamongan dari Tuban dengan diantar kakak sepupu yang ndilalah e rumahnya tidak jauh dari tempat kami berhenti (saya belum pernah berkunjung ke rumah sepupu tersebut). Kami pun singgah sebentar, makan, mandi, dan lanjut perjalanan kembali.

Tapi saya penasaran, apa yang menjadikan si kecil enggan mengASI kepada saya. Rupanya, dia merasa kepedesan (kali) dengan ASInya karena sebelum naik bis di Semarang, saya membalur perut saya yang mulai kembung dengan minyak kayu putih. 

Dari perjalanan itu, banyak pelajaran yang saya dapat, terutama pengalaman sebagai seorang ibu. Saya yang sebelumnya gampang panik dengan tangisan anak, kini menjadi lebih tenang menghadapinya. Saya yang dulu gampang terganggu dengan tangisan anak orang lain di kendaraan umum, kini bisa lebih peduli dan simpati. Saya yang dulu cenderung cuek dengan orang yang tidak dikenal, kini bisa mengurangi sikap cuek tersebut dan lebih berpikirna positif. Kalau bang Napi bilang, kejahatan di mana-mana, maka saya juga bisa bilang, kebaikan pun ada di mana-mana. Dan yang lebih penting lagi, tidak mengusap minyak kayu putih sembarangan. Hehehe.




*Tidak ada dokumentasi foto di perjalanan saat itu. Maklum, pikiran kacau balau.

Wednesday, 9 April 2014

Kartini Itu Perempuan yang Sadar Prioritas


Untuk meramaikan GA-nya Pakdhe, saya memilih artikel dari tokoh yang saya anggap spesial di hati saya, meskipun saya belum pernah bertemu dengannya. Namanya Irmayanti Nugraha, sang ratu galau. Entah dari mana julukan itu, yang pasti, sang ratu ini sering menyebut dirinya sebagai ratu galau yang seringkali membuat pencitraan (yang aslinya memang hebat) dan tampil (dalam status FB) sebagai pribadi yang apa adanya. Sang ratu adalah ibu pelaku homeschooler dari ketiga putra-putrinya, seorang guru yang menurut saya luar biasa, dan ternyata sangat aktif ngeblog, terutama tentang pendidikan. 

Salah satu tulisan yang saya sukai adalah curhat sang ratu yang berjudul 'Lagi Nyesek.' Tulisan itu juga pernah dishare di status FB dan mendapat banyak komentar, terutama para ibu yang merasa satu nasib dengan dia, termasuk juga saya. 

Sebenarnya tulisan itu sederhana, singkat, dan terkesan hanya sebuah curhat. Tapi bagi saya yang merasa satu nasib dengannya, tulisan tersebut adalah obat yang sangat luar biasa mujarab untuk kegalauan saya. Seperti dalam puisi-puisi, curhatan sang ratu seperti oase di padang pasir.

Secara singkat, tulisan itu bercerita tentang perasaan seorang ibu, yang berlatar belakang pendidikan tinggi, yang sebenarnya punya banyak kesempatan untuk berkelana di luar rumah, yang juga berkesempatan mendapatkan karir, yang juga punya kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi, tapi harus 'rela berkorban' untuk menahan semua impiannya itu demi anak-anak. Memang pada kenyataannya, Mbak Irma (begitu saya memanggilnya) masih tetap mengajar, tapi mungkin tidak bisa full. Dalam masa-masa inilah, Mbak Irma menyebutnya sebagai waktu yang nyesek. Masa itu pun tidak sebentar, sepuluh tahun, saudara-saudara.
Menunggu sepuluh tahun untuk kembali ke dunia persilatan, ternyata saya ga banyak kehilangan juga, kok. Sekarang saya memang bukan pakar, ga terkenal, ga kaya dari segi pendidikan, karir dan hobi, tapi somehow saya merasa seimbang, dan fulfilled. Ga penasaran, gitu.

Alhamdulillah.... 
Begitu curhatnya ditutup. Artinya, masa-masa nysek itu telah berakhir bahagia dengan sebuah kondisi yang sangat ideal, seimbang. Lalu apa hubungannya dengan semangat Kartini?

Salah satu semangat yang diperjuangkan Kartini adalah memperjuangkan kemerdekaan perempuan dengan pendidikan. Menurutnya, 
 ... Dan betapakah ibu Bumiputera itu sanggup mendidik anaknya, bila mereka itu tiada berpendidikan?
Ya, perempuan memang harus berpendidikan. Namun Kartini juga cepat-cepat menegaskan bahwa terdidiknya perempuan adalah untuk bekal tugas prioritasnya, yaitu ibu. 
Seorang perempuan yang mengurbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hatinya... perempuan itu 'ibu'lah dalam hati sanubarinya... Ibulah yang menjadi pusat kehidupan rumah tangga dan kepada ibu itulah dipertanggungjawabkan kewajiban pendidikan anak-anak yang berat itu: yaitu bagian pendidikan yang membentuk budinya.
Semangat sadar akan prioritas itulah yang saya lihat dari tulisan Mbak Irma, di mana dia mampu memilah dan memilih mana hal yang utama dan didahulukan dan hal mana yang bisa ditunda di kemudian hari. Pengasuhan dan pendidikan anak-anak ditempatkan pada prioritas utama, baru kemudian menempatkan hal lainnya. Tulisan inilah yang kemudian membuat saya lebih legowo atas situasi saya sendiri, saya yang memilih untuk tidak berkerja di luar demi membesarkan sendiri anak saya. Mungkin nantinya saya akan bekerja, tapi saya pastikan, saya tidak menjadikan anak sebagai prioritas kedua setelah pekerjaan saya.

Seperti yang ditulikannya di awal, 
Mmm..... khawatir salah persepsi nih.
Saya bukan mau bilang, "Ayo pada resign!", karena saya juga bekerja di luar rumah sampai saat ini. Lagipula, banyak sekali ibu yang bisa meraih pencapaian pribadi dalam pendidikan dan karir, tanpa perlu melewatkan masa perkembangan anak-anak.
Tulisan tersebut bukan kampanye bagi para ibu untuk keluar dari pekerjaannya. Pesan yang ingin disampaikan adalah, bahwa semua ada masanya. Mungkin saat ini situasi yang kita rasa begitu menyesakkan, namun yakinlah, bahwa suatu masa, kita akan tersenyum atas air mata kita hari ini.

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Ada Kartini Di Dadamu.

Suber kutipan tulisan Kartini, "Habis Gelap Terbitlah Terang,"  terj. Armijn Pane, 1990.