Pernahkah Anda merasa kecewa dengan Indonesia? Saya pernah,
sering malah. Yaitu ketika membaca atau menyaksikan berita-berita yang tidak
menyenangkan tentang Indonesia. Misalnya, berita tentang peringkat tertinggi
yang diraih Indonesia perihal tindak korupsi atau peringkat Indonesia dalam
pendidikan yang berada di bawah Vietnam, atau berita tentang TKI atau TKW yang
dideportasi karena tidak mempunyai dokumen yang lengkap, atau berita tentang
ekspor kabut asap ke negeri tetangga akibat pembakaran hutan secara liar, dan
sederet berita yang tidak menyenangkan lainnya. Belum lagi berita tentang
perilaku-perilaku tidak disiplin yang dilakukan masyarakat yang terkadang di
luar logika kewarasan, seperti pencurian rel kereta api, pencurian lampu
jembatan, pemalsuan plat nomor kendaraan, penyusupan barang-barang terlarang
seperti ganja, pembuatan minuman oplosan yang membuat hilangnya nyawa manusia,
atau berita-berita investigasi yang membuat perut seperti terkocok-kocok dan
memuntahkan seluruh isinya.
Menyaksikan berita-berita tersebut sungguh membuat saya
pesimis, seakan-akan mencari orang baik di negeri yang katanya sekeping emas
dari surga ini seperti mencari jarum dalam jerami, susah. Dan kalau mau
terus-terusan dituruti, rasa pesimis itu akan terus menjalar ke seluruh
pemikiran, menular ke lingkungan terdekat, menyebar ke masyarakat, dan
seterusnya. Bila dibiarkan, rasa pesimis itu akan menjadi mesin penghancur
harapan di masa yang akan datang.
Karena itulah, saya kemudian memilah dan memilih tontonan
serta bacaan yang akan menjadi makanan jiwa saya. Saya kemudian memperbanyak
berita-berita positif, cerita-cerita yang menginspirasi, serta teladan-teladan
yang membuat semangat kembali membara untuk menyongsong harapan. Dan ternyata,
berita-berita positif itu banyak, sangat banyak, dan berlimpah. Ada berita
pemimpin daerah yang tak kenal menyerah dalam memajukan daerahnya melalui
program ambulans menjemput, ada cerita tentang seniman yang terus berkarya
tanpa imbal jasa, ada pendidik-pendidik yang rela meninggalkan kehidupan
gemerlap kota yang mewah untuk berjuang di pedalaman, ada anak kecil yang tanpa
rasa lelah mengurus orang tua yang telah lemah tidak berdaya, dan masih banyak
lagi yang lainnya.
Itulah cara saya memandang Indonesia. Saya melihat dari
media, dari lingkungan sekitar, dan dari kepekaan berpikir. Sederhana memang. Ya,
saya tidak bisa melihat Indonesia dari kaca mata luar karena memang saya belum
pernah pergi ke luar negeri dan membandingkan Indonesia dengan negara-negara di
luar sana. Beberapa kali memang saya sempat mengagumi beberapa keunggulan negara
lain, tapi kembali lagi saya berpikir bahwa saya tinggal di Indonesia, lahir
dan besar di sini, memakai tanah di sini, minum air di sini, punya harapan dan
cita-cita di negeri ini, dan akan mencurahkan pengabdian untuk negeri ini. Saya
teringat dengan guyonan anak-anak muda di buku 5 Cm, bahwa negeri ini memang
unik, bangsa kreatif, dan pastinya tiada duanya di dunia ini. Mana ada ojek
payunh di luar negeri? Mana ada kapal selam atau ketoprak yang dijadikan
makanan di luar negeri? Mana ada nasi pecel, rujak cingur, nasi timbel, sego
kucing, dan sederet makanan-makanan lezat lainnya di luar sana?
Ingatan saya pun melayang ke berita-berita mengerikan di
jalur Gaza, di Suriah, di Afganistan, dan baru-baru ini terjadi, perang di
Irak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka di sana. Jangankan
sekolah, jalan-jalan, bersantai ria, atau bekerja mencari nafkah, untuk
memejamkan mata saja pastinya mereka diliputi rasa takut yang luar biasa.
Anak-anak mereka lahir dan tumbuh dalam keadaan mencekam, rasa takut, dan rasa
penuh dendam dan permusuhan. Rasa syukur pun tak terkira karena saya
ditakdirkan lahir di negeri yang super damai ini. Kalau pun ada sedikit
kekacauan, pastinya akan segera diselesaikan dan kedamaian akan kembali
dirasakan.
Lalu, apa peran yang bisa saya lakukan untuk negeri tercinta
ini sebagai rasa syukur saya? Tugas utama saya adalah sebagai ibu. Peran yang
bisa saya lakukan dan saya persembahkan untuk negeri ini adalah mempersembahkan
generasi-generasi tangguh di masa depan yang akan mengabdi di negeri ini. Saya akan
mendidik anak-anak saya dengan pendidikan yang sebaik-baiknya, memberikan bekal
akhlak yang mulia, menumbuhkan jiwa yang tangguh, tidak mudah menyerah, serta
mempunyai nilai spiritual yang tidak akan tergerus oleh zaman. Saya masih
percaya, bahwa perempuan adalah tiang negara. Apabila perempuan di negara
tersebut baik, maka baiklah negara tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila
perempuan-perempuan di suatu negara itu tidak baik, maka bisa dipastikan,
hancurlah negara tersebut. Seorang penyair pun berkata, bahwa ibu adalah sekolah pertama yang terbaik, apabila ibu tersebut disiapkan dengan baik, berarti ia telah menyiapkan suatu bangsa yang harum namnya.



