Wednesday, 9 April 2014

Kartini Itu Perempuan yang Sadar Prioritas


Untuk meramaikan GA-nya Pakdhe, saya memilih artikel dari tokoh yang saya anggap spesial di hati saya, meskipun saya belum pernah bertemu dengannya. Namanya Irmayanti Nugraha, sang ratu galau. Entah dari mana julukan itu, yang pasti, sang ratu ini sering menyebut dirinya sebagai ratu galau yang seringkali membuat pencitraan (yang aslinya memang hebat) dan tampil (dalam status FB) sebagai pribadi yang apa adanya. Sang ratu adalah ibu pelaku homeschooler dari ketiga putra-putrinya, seorang guru yang menurut saya luar biasa, dan ternyata sangat aktif ngeblog, terutama tentang pendidikan. 

Salah satu tulisan yang saya sukai adalah curhat sang ratu yang berjudul 'Lagi Nyesek.' Tulisan itu juga pernah dishare di status FB dan mendapat banyak komentar, terutama para ibu yang merasa satu nasib dengan dia, termasuk juga saya. 

Sebenarnya tulisan itu sederhana, singkat, dan terkesan hanya sebuah curhat. Tapi bagi saya yang merasa satu nasib dengannya, tulisan tersebut adalah obat yang sangat luar biasa mujarab untuk kegalauan saya. Seperti dalam puisi-puisi, curhatan sang ratu seperti oase di padang pasir.

Secara singkat, tulisan itu bercerita tentang perasaan seorang ibu, yang berlatar belakang pendidikan tinggi, yang sebenarnya punya banyak kesempatan untuk berkelana di luar rumah, yang juga berkesempatan mendapatkan karir, yang juga punya kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi, tapi harus 'rela berkorban' untuk menahan semua impiannya itu demi anak-anak. Memang pada kenyataannya, Mbak Irma (begitu saya memanggilnya) masih tetap mengajar, tapi mungkin tidak bisa full. Dalam masa-masa inilah, Mbak Irma menyebutnya sebagai waktu yang nyesek. Masa itu pun tidak sebentar, sepuluh tahun, saudara-saudara.
Menunggu sepuluh tahun untuk kembali ke dunia persilatan, ternyata saya ga banyak kehilangan juga, kok. Sekarang saya memang bukan pakar, ga terkenal, ga kaya dari segi pendidikan, karir dan hobi, tapi somehow saya merasa seimbang, dan fulfilled. Ga penasaran, gitu.

Alhamdulillah.... 
Begitu curhatnya ditutup. Artinya, masa-masa nysek itu telah berakhir bahagia dengan sebuah kondisi yang sangat ideal, seimbang. Lalu apa hubungannya dengan semangat Kartini?

Salah satu semangat yang diperjuangkan Kartini adalah memperjuangkan kemerdekaan perempuan dengan pendidikan. Menurutnya, 
 ... Dan betapakah ibu Bumiputera itu sanggup mendidik anaknya, bila mereka itu tiada berpendidikan?
Ya, perempuan memang harus berpendidikan. Namun Kartini juga cepat-cepat menegaskan bahwa terdidiknya perempuan adalah untuk bekal tugas prioritasnya, yaitu ibu. 
Seorang perempuan yang mengurbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hatinya... perempuan itu 'ibu'lah dalam hati sanubarinya... Ibulah yang menjadi pusat kehidupan rumah tangga dan kepada ibu itulah dipertanggungjawabkan kewajiban pendidikan anak-anak yang berat itu: yaitu bagian pendidikan yang membentuk budinya.
Semangat sadar akan prioritas itulah yang saya lihat dari tulisan Mbak Irma, di mana dia mampu memilah dan memilih mana hal yang utama dan didahulukan dan hal mana yang bisa ditunda di kemudian hari. Pengasuhan dan pendidikan anak-anak ditempatkan pada prioritas utama, baru kemudian menempatkan hal lainnya. Tulisan inilah yang kemudian membuat saya lebih legowo atas situasi saya sendiri, saya yang memilih untuk tidak berkerja di luar demi membesarkan sendiri anak saya. Mungkin nantinya saya akan bekerja, tapi saya pastikan, saya tidak menjadikan anak sebagai prioritas kedua setelah pekerjaan saya.

Seperti yang ditulikannya di awal, 
Mmm..... khawatir salah persepsi nih.
Saya bukan mau bilang, "Ayo pada resign!", karena saya juga bekerja di luar rumah sampai saat ini. Lagipula, banyak sekali ibu yang bisa meraih pencapaian pribadi dalam pendidikan dan karir, tanpa perlu melewatkan masa perkembangan anak-anak.
Tulisan tersebut bukan kampanye bagi para ibu untuk keluar dari pekerjaannya. Pesan yang ingin disampaikan adalah, bahwa semua ada masanya. Mungkin saat ini situasi yang kita rasa begitu menyesakkan, namun yakinlah, bahwa suatu masa, kita akan tersenyum atas air mata kita hari ini.

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Ada Kartini Di Dadamu.

Suber kutipan tulisan Kartini, "Habis Gelap Terbitlah Terang,"  terj. Armijn Pane, 1990.

6 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Ada Kartini di Dadamu di BlogCamp.
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. saya jadi ingin mengenal mbak Irmayanti lebih dekat, sukses GA nya yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. monggo kenalan sama beliau. Insya Allah bermanfaat. hehehe. makasih udah berkunjung mbak.

      Delete
  3. Mak irma inspiratif banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul..betul..betul.. kata Ipin. hehehe. makasih sudah mampir.

      Delete